Perubahan Iklim Melawan Perubahan Iklim Apa itu Ekonomi Berputar? Zero Waste?

Apa itu Ekonomi Berputar? Zero Waste?

Perubahan Iklim | Ekonomi berputar? Zero waste? Apalagi itu? Secara definisi zero waste adalah tidak mengirim apa pun ke tempat pembuangan sampah.

Untuk definisi yang lebih kompleks: Mendefinisikan ulang sistem ekonomi kita dari ekonomi linier ke ekonomi sirkular untuk menghapus pemborosan.

Penjelasan rinci dari zero waste, berikutnya akan saya sebut Nol Sampah dan atau ekonomi berputar akan memakan waktu yang panjang. Untuk itu saya akan berusaha menjelaskan secara ringkas dan akan cukup banyak informasi kali ini untuk menjelaskan hal tersebut.

Seringkali ketika kita menjelaskan ide Nol Sampah orang akan melihat kita sebagai kaum utopis, kaum pemimpi. Istilah nol (zero) memang bukan istilah yang menyenangkan, cenderung menakutkan. Kenapa? Karena Nol Sampah seringkali membatasi aktifitas manusia dan tidak serta merta menyelesaikan masalah seperti rasisme lingkungan, interseksionalitas, perubahan iklim dan jejak karbon.

Coffelover? You Should Read This
Kopi dan Islam, Dua Hal Yang Tidak Bisa Dipisahkan
Biji Kopi Untuk Kopi Dingin, Mana Yang Terbaik
Informasi berkaitan dengan autism
Apa itu Autis
Apakah Anak Saya Autis?
Dibalik Autism, Lebih Dari Sekedar Gen

Mengapa? Karena semuanya saling berhubungan dan gaya hidup tanpa limbah sebetulnya menggabungkan banyak hal. Ada hubungan yang erat antara masalah sosial dengan lingkungan.

Masalahnya adalah semuanya saling berhubungan, dan keinginan untuk menjalani gaya hidup tanpa limbah sebenarnya menggabungkan banyak dari hal-hal itu. Ada hubungan yang erat antara masalah lingkungan dan sosial. Contohnya begini:

Bila kita menghadiri pertemuan tentang issu penangkapan ikan di laut lepas, kita akan mendengar sejumlah temuan tentang issu perdagangan budak dimana tenaga kerja dibayar dengan sangat murah. Temuan lain adalah berkaitan dengan penangkapan ikan yang berlebihan.

Saya sering mendengar tenaga kerja yang dibayar murah. Masalahnya kemudian, bila tenaga kerja dibayar sesuai dengan norma yang berlaku, maka kita akan menghadapi harga ikan yang mungkin tidak terjangkau bagi banyak orang. Untuk menyiasati hal ini tentu harus dilakukan penangkapan ikan dalam jumlah banyak agar ongkos tenaga kerja bisa tertutupi. Itu sebabnya sejumlah negara maju mempekerjakan tenaga kerja dari negara berkembang dengan standard gaji negara pekerja. Ini membuktikan bahwa ada hubungan erat antara masalah lingkungan dan sosial.

Keluhan lain adalah perfeksionisme. Tentang tanggapan bahwa tidak ada orang yang benar-benar Nol Sampah.

Point diatas akan terus berulang apabila kita menganggap bahwa Nol Sampah adalah sebuah prilaku yang dilakukan orang. Bila ini sebuah prilaku maka ini adalah sebuah sebuah kemustahilan.

Nol Sampah adalah sebuah tujuan. Ini bukan tentang kesempurnaan melainkan tentang membuat pilihan yang lebih baik.

Kebanyakan blogger dan instagrammer selalu memposting hal yang berantakan tentang ide Nol Sampah. Akan selalu ada hal yang kurang bila dikaitkan dengan terms zero waste. Satu hal yang pasti adalah para blogger memiliki sikap positif yang sangat nyata dan optimis yang terjalin di seluruh posting mereka.

Mereka mendorong anda untuk melakukan yang terbaik yang Anda bisa. Tidak akan pernah sempurna. Mereka hanyalah sekelompok orang yang mencoba memberikan dampak positif bagi planet ini.

Jadi mari kita benar-benar berbicara tentang Nol Sampah dan Ekonomi Sirkular. Apa itu Ekonomi Berputar

Bagaimana nol limbah dimulai?

Istilah ini pertama kali digunakan pada 1970-an oleh Paul Palmer sebagai istilah industri.

Paul Palmer mendirikan Zero Waste Solutions dan memulainya dengan mengambil bahan kimia laboratorium yang terbuang percuma dan menjualnya kembali kepada ilmuwan dan perusahaan.

Pada dasarnya mereka tidak ingin bahan kimia terbuang sia-sia sampai ditemukan solusi untuk mencegahnya. Maka lahirlah zero waste! (tidak berlebihan).

Apa itu Ekonomi Berputar. Nol sampah? Nol Sampah memang sangat tidak seksi. Nol Sampah yang kita kenal muncul pada era depresi. Tidak ada yang menyia-nyiakan apa pun karena tingkat konsumsi kita sangat berbeda, karena kita hidup di dunia yang sama sekali berbeda. Era dimana praktik pemotongan nilai uang dilakukan dan manakala moyang kita dipaksa untuk makan bekatul karena sulitnya pangan pada saat itu.

Saat ini semuanya sudah mengglobal. Jika Anda belum membaca The World is Flat oleh Thomas Friedman, bacalah. Ini berbicara tentang globalisasi dan perubahan yang terjadi dengan teknologi.

Harga tidak Seperti Yang Kita Lihat

Pada era depresi, kita tidak bisa membeli pakaian baru yang diproduksi masal di china, misalnya, seharga Rp. 15.000. Tidak bisa. Anda harus membuatnya dipenjahit pelanggan anda atau anda harus membelinya di toko butik yang menjual pakaian single produk seharga Rp. 120.000. Karena tidak ada produksi masal sehingga seluruh baju akan dibuat satuan.

Baju yang anda temui pada toko pakaian pada saat itu tidak akan anda temui pada toko pakaian yang sama yang jaraknya 50 km dari rumah anda.

Ya benar. Jika pakaian yang saya miliki seharga Rp. 120 ribu, saya akan pilih-pilih apa yang saya akan saya beli dan pakaian yang saya beli akan saya rawat dengan benar agar lebih awet. Itu sebabnya, perempuan atau lelaki kaya pada masa itu hanya memiliki 10 – 15 baju di lemarinya. Mereka akan menjaga benar-benar barang tersebut dan tidak akan menyia-nyiakannya karena harga untuk mendapatkannya sedemikian tinggi.

Ya benar. Jika pakaian yang saya miliki seharga Rp. 300 ribu, saya akan pilih-pilih apa yang saya akan saya beli dan pakaian yang saya beli akan saya rawat dengan benar agar lebih awet. Itu sebabnya, perempuan atau lelaki kaya pada masa itu hanya memiliki 10 – 15 baju di lemarinya. Mereka akan menjaga benar-benar barang tersebut dan tidak akan menyia-nyiakannya karena harga untuk mendapatkannya sedemikian tinggi.

Pada masa itu, pemikiran untuk membeli produk untuk dibuang seperti handuk atau tissue menjadi sangat tidak masuk akal. Saat ini, kakek nenek kita mungkin telah beradaptasi dengan kebiasaan baru yang berjalan. Namun, dapat dipastikan mereka tidak tumbuh dengan pemikiran yang ada pada kita masa kini.

Pikiran untuk membeli produk untuk dibuang seperti handuk kertas atau tisu kertas tidak masuk akal. Mereka mungkin telah beradaptasi sekarang, tetapi tentu saja bukan cara mereka tumbuh dewasa.

Orang-orang masa itu tidak akan dapat membayangkan untuk menghabiskan uang untuk barang-barang yang akan mereka buang. Bahkan jika mereka memiliki barang sekali pakai seperti tas yang belanjaan yang terbuat dari kertas coklat, saya bertaruh mereka akan menyimpannya dan akan menggunakannya berulangkali sampai tidak bisa lagi digunakan.

Seperti yang dipraktekkan penganut Nol Sampah pada masa kini, orang-orang dulu akan belanja produk curah. Gula, tepung, beras, kacang dan sebagainya diambil dari penyimpananannya lalu ditimbang sesuai kebutuhan dan produk tersebut dibungkus kertas. Tanpa label. Tanpa perlu ada botol penyimpan dan label kertas yang akan terbuang bila produknya habis.

Zero Waste Tidak Berarti Ekonomi Berputar

Meskipun hidup dengan limbah yang sangat kecil dengan mengurangi, menggunakan kembali, dan memperbaiki sebanyak yang kita bisa ini adalah hal yang luar biasa dan menakjubkan. Tapi itu tetap tidak melingkar.

Peralatan buatan tahun 1940 hingga 70 an dibuat untuk dapat diperbaiki. Mereka akan merogoh kocek lebih dalam untuk menyiapkan tempat after sales/bengkel perbaikan.

Kini, banyak perusahaan menyadari bahwa mereka memerlukan kapital yang lebih banyak. Mereka butuh pertumbuhan yang luar biasa dengan menciptakan produk yang sulit ditiru dan diperbaiki, dan harus cepat rusak!. Semakin cepat anda merusaknya, akan semakin cepat anda membeli produk baru.

Margin keuntungan tidak perlu terlalu besar yang penting mereka akan bisa menjual berdasarkan kuantitas. Ini yang disebut kerusakan yang direncanakan. Harga barang akan sedemikian terjangkau. Jauh lebih murah dalam jangka panjang untuk membeli kembali dibanding membawanya ke toko reparasi. Baik terkait dengan biaya yang harus dikeluarkan maupun waktu menunggu selama peralatan itu diperbaiki. Tanpa kita sadari. ini saatnya masalah yang uncul mulai benar-benar tidak terkedali.

Ekonomi Linier dan Keterbatasan SDA

Pada dasarnya kita mengambil sumberdaya alam dari bumi, merubahnya menjadi sebuah produk dengan energi yang juga diambil dari bumi lalu membuangnya kedalam lubang bila sudah tidak lagi dapat dipergunakan.

Sumberdaya alam sangat berharga dan tidak bisa diperbaharui. Tentu saja daur ulng memainkan peranannya dalam berupaya memulihkan beberapa bahan. Namun itu bukan solusi utama. Belajar dari TPA terbesar dan tercanggih yang kita miliki, TPA Bantar Gebang, hanya 20 persen dari seluruh sampah yang masuk yang bisa didaur ulang. Sisanya harus dipecahkan menjadi pecahan kecil dan ditumpuk menjadi tumpukan setinggi Candi Borobudur dan menempati area seluas lebih dari 11 km persegi atau setara dengan 1.110 lapangan sepakbola.

Ketidakberlanjutan dan Hari Overshoot Bumi

Ekonomi berputar mencerminkan alam. Di alam tidak ada sampah atau limbah. Limbah seperti kotoran sangat penting bagi sistem alam. Ini memberikan nutrisi penting bagi tanaman.

Hidup dalam ekonomi linier sepertinya begitu menjanjikan sampai kemudian kita mengkonsumsi pada tingkat yang lebih tinggi dimana kerusakan yang direncanakan pada peralatan menjadi suatu hal yang normal. Sekarang kita mengkonsumsi pada tingkat yang sama sekali tidak berkelanjutan. Tingkat dimana kita membutuhkan ekonomi berputar.

Kita saat ini mengkonsumsi sumberdya alam senilai 1.5 bumi setiap tahunnya. Sejumlah peneliti dan aktivis lingkungan menyusun parameter berapa banyak sumberdaya alam diambil dan dihabiskan untuk memenuhi gaya hidup konsumerisme kita. Hari itu disebut dengan Hari Overshoot Bumi dan tidak sama setiap tahunnya dan mungkin tidak terjadi setiap tahun. Hari itu adalah hari yang menjadi akumulasi total sumberdaya yang kita habiskan sampai tahun mendatang.

Untuk kali pertama, hari tersebut jatuh pada tanggal 2 Agustus 2017 dan setiap tahunnya bisa terjadi lebih awal atau lebih lambat bergantung pada tingkat konsumerism kita.

Masalahnya bisa menjadi buruk atau lebih buruk. Lalu apa yang bisa kita lakukan?

Hidup Tanpa Sampah
Sebenarnya banyak hal yang bisa kita lakukan

Pertama, kita bisa mencoba menjalani gaya hidup zero waste. Gaya hidup zero waste bertujuan untuk hidup seperti generasi tua. Kita betul-betul membeli apa yang kita butuhkan dan menjaga apa yang yang sudah kita miliki. Ini termasuk dengan pilihan pakaian, pembelian bahan makanan dan pembelian peralatan yang bisa diperbaiki.

Secara otomatis, gaya hidup ini akan menempatkan penggunaan barang sekali pakai sebagai opsi terakhir, jauh dibawah pembelian/penggunaan kembali barang bekas.

Yang terakhir dilakukan adalah proses daur ulang dan pengomposan. Tujuannya adalah untuk mencoba mengurangi dan menggunakan kembali sebanyak mungkin barang-barang terlebih dahulu.

Jadi, sebelum Anda mendaur ulang sesuatu, kita harus memperhatikan untuk penggunaan untuk hal lain. Sebelum membuat kompos, bisakah kita memakan sisa-sisa itu?

Apakah ini cara hidup yang sempurna? Tidak, tentu saja tidak. Apakah itu sepenuhnya mewakili ekonomi berputar? Tidak, tentu saja tidak.

Kita hidup dalam sistem yang cacat. Dan sistem ini menantang norma-norma alam. Pada akhirnya sistem ini akan akan menantang munculnya ide-ide baru dan inovasi.

Hal yang sering kita lupakan adalah, berapa besar kekuatan kita sebagai konsumen. Bila kita semua tegak berdiri pada barisan yang sama maka bisnis akan mulai mencari solusi untuk menerapkan ekonomi berputar.

Kita bisa melihat disekililing kita dan di dunia, betapa banyak toko-toko yang menawarkan zero waste atau low waste. Percayalah, angka ini akan semakin tumbuh dan meluas.

Mencoba untuk hidup berkelanjutan tidak harus seperti menerapkan ilmu tentang roket yang pelik. Temukan saja beberapa hal yang sesuai dengan jadwal dan rutinitas belanja anda dan mulailah. Namun bila anda ingin serius untuk memulainya, gunakan empat hal besar yang harus dilakukan berikut ini. Tapi bila boleh jujur, sebaiknya anda mencoba sesuatu hal yang baru.

Seelah anda menguasai satu hal tersebut, anda bisa menambahnya dengan hal lain. Memang butuh banyak waktu. namun dengan kesabaran dan ketekunan, kita dapat membuat dampak besar dengan beberapa perubahan kecil. Kita bisa membuat ekonomi berputar

Menemukan Komunitas
Bergabung dengan komunitas dan temukan ide-ide baru disitu. Satu hal alasan bergabung dengan komunitas menjadi hal yang wajib adalah karena ini adalah langkah pertama yang harus kita lakukan untuk bisa melobi sebuah perubahan besar.

Bekerja Untuk Mengubah Bisnis
Langkah selanjutnya adalah dengan aktif pada komuniats lokal dan memberikan tekanan pada bisnis lokal. Ada banyak cara untuk mendorong perubahan pada bisnis lokal. Anda bisa meminta pedagang nasi goreng untuk mengganti styrofoam dengan besek bambu misalnya. Atau meminta pedagang kopi lokal untuk mengenakan biaya atas gelas sekali pakai yang digunakan atau menggantinya dengan tumbler yang dibawa pelanggan. Kita mendorong mereka untuk menerapkan ekonomi berputar dengan cara yang sederhana.

Hal yang harus digarisbawahi, seluruh tindakan yang mereka lakukan bukan didasari atas tekanan. Mereka/pedagang harus melakukannya dengan cara yang bergembira dan membanggakan karena sudah ikut terlibat dalam melawan perubahan iklim.

Anda juga bisa meminta toko kelontong untuk memberikan potongan yang cukup berarti apabila pelanggan membawa kantong plastik sendiri. Tempelkan sticker di depan toko kelontong anda tentang hal ini dan berbanggalah telah menjadi bagian dari sebuah perubahan besar bagi anak cucu kita. Ini adalah amal yang tiada putus.

Selalu mudah untuk melakukan perubahan pada tingkat lokal. Tetapi pada ahirnya kita harus membawa ide-ide ini ke puncak pencemar seperti Aqua, Coca-Cola, Nestle, Unilever dan sejumlah merk besar lainya yang beroperasi dan memiliki pabrik di Indonesia. Memaksa mereka menerapkan ekonomi berputar.

Hal ini tidak akan bisa terjadi bila tidak banyak orang yang terlibat.

Bekerja Untuk Merubah Kebijakan
Setelah ada kerusuhan umum anda bisa membentuk kebijakan. Ini adalah hal yang umum. Seringkali pengambil kebijakan enggan memperhatikan suara-suara yang muncul terkait perubahan kebijakan. Tidak salah. Karena dianggap suara yang menolak begitu sedikit. Menjadi salah apabila mereka tidak mengkaji alasan fundamental yang melatarbelakangi munculnya suara tersebut.

Namun satu hal yang pasti, untuk melakukan perubahan secara nasional bisa dimulai secara local. Aturan penggunaan styrofoam bisa dilakukan secara lokal yang kemudian diikuti pada skala kabupaten dan kota. Lalu bisa melebar ke propinsi dan propinsi tetangga hingga pada akhirnya akan menjadi satu kebijakan nasional.

Begitu undang-undang nasional berlaku, maka ini akan mengubah praktik perusahaan dan bisnis yang lebih besar yang berbisnis selain styrofoam. Pada akhirnya ini akan mempengaruhi konsumen dan kita bisa memulai lagi untuk membentuk usulan baru untuk menjaga bumi.

Kita harus hadir di komunitas kita sendiri. Kita harus bekerja untuk legislasi, mempengaruhi bisnis, dan menumbuhkan komunitas lokal di tingkat akar rumput.

Perubahan akan datang, dan itu semua berkat Anda!

Masing-masing dari kita memainkan peran penting dalam gerakan ini. Bukan cuma tentang memasukkan sampah ke dalam tong sampah yang berbeda peruntukannya atau tentang memenangkan zero waste.

Juga bukan kompetisi untuk melihat siapa yang paling ramah lingkungan, paling vegan, paling berkelanjutan, atau paling bebas plastik.

Ini semata hanya tentang mencoba.

Dan ingatlah, tidak setiap orang berpartisipasi penuh setiap saat. Beberapa mungkin pernah sesekali berpartisipasi dan beberapa lainnya tidak pernah dapat berpartisipasi. Tidak apa-apa.!

Ini hanya sekelompok orang yang mencoba melakukan perubahan dan menggunakan suara mereka untuk menulis ulang sistem. Menggunakan suara mereka untuk menuntut perubahan. Menggunakan pilihan dan cara mereka membelanjakan uang sebagai tindakan protes.

Ini bukan tentang kesempurnaan; Ini tentang membuat pilihan yang lebih baik.

Kami di RumahBiru senantiasa mencoba untuk membangun literasi tentang lingkungan dan perubahan iklim.

Rully Syumanda
Kabid Lingkungan Hidup DPN Gelora Indonesia dan Direktur Eksekutif Rumah Biru

10 Likes

Author: Rully Syumanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »