Bahaya Dari Plastik Kemasan

Bahaya dari plastik kemasan tidak banyak diketahui oleh masyarakat. Meskipun masyarakat tidak bisa lepas dari plastik, bahaya yang mengintai ternyatra jauh lebih besar dan mempengaruhi generasi dibawahnya.

Namun, ada sejumlah hal yang bisa kita lakukan untuk meminimalisir bahaya tersebut. Sederhana. Jangan pernah menggunakan plastik untuk makanan panas dan lemak.

Penggunaan plastik terbentang dari mulai material pembangunan rumah, vinil pelapis lantai, furnitur, peralatan medis, mainan, hingga peralatan makan serta kemasan makanan. Ada berbagai jenis plastik yang digunakan sebagai kemasan makanan dan minuman, mulai dari botol, gelas, kotak bekal, kotak kemasan makanan, kantong plastik, hingga tas keresek.

Ada Banyak Jenis Plastik

Jenis plastik yang berbeda memiliki nama berbeda berdasarkan komposisinya, seperti polipropilen, polietilen, polietilen tereftalat, dan polikarbonat. Plastik-plastik tersebut juga mengandung berbagai bahan kimia dengan sifat berbeda, seperti zat yang membuat fleksibel, antioksidan, dan pewarna.

Paparan bahan kimia dari plastik memang dalam dosis yang sangat rendah. Namun bila terjadi terus menerus dalam jangka panjang akan menimbulkan gangguan kesehatan yang sagat-sangat merugikan.

Coffelover? You Shoul Read Ths
Kopi dan Islam, Dua Hal Yang Tidak Bisa Dipisahkan
Biji Kopi Untuk Kopi Dingin, Mana Yang Terbaik
Informasi berkaitan dengan autism
Apa itu Autis
Apakah Anak Saya Autis?
Dibalik Autism, Lebih Dari Sekedar Gen

PadaTahun 2011, Environmental Health Perspectives melaporkan, pengujian produk plastik komersial berlabel bebas BPA ternyata menguraikan zat kimia yang diketahui memiliki aktivitas estrogenik. Zat kimia ini memengaruhi konsentrasi hormon estrogen dalam darah. Berisiko mengganggu kesuburan.

Sementara itu, Lisa Zimmermann dan kolega dari Jerman dan Norwegia meneliti produk plastik untuk konsumen, mencakup delapan jenis polimer utama. Penelitian yang dipublikasi di Environmental Science & Technology, 5 Agustus 2019, melaporkan, sebagian besar (74 persen) dari 34 ekstrak plastik mengandung bahan kimia yang memicu setidaknya satu hal, termasuk toksisitas dasar (62 persen), stres oksidatif (41 persen), sitotoksisitas (32 persen), estrogenisitas (12 persen), dan antiandrogenisitas (27 persen).

Bahaya dari plastik kemasan juga ditemukan pada ekstrak polivinil klorida (PVC) dan poliuretan (PUR) menyebabkan toksisitas tertinggi. Sementara polietilen tereftalat (PET) dan polietilen densitas tinggi (HDPE) menunjukkan toksisitas rendah atau tidak menyebabkan toksisitas.

Toksisitas dasar tinggi terdeteksi di semua “bioplastik” yang terbuat dari asam polilaktik (PLA). Sementara toksisitas polietilen densitas rendah (LDPE), polistiren (PS), dan polipropilen (PP) bervariasi.

Anak Memiliki Resiko Tertinggi

Leonardo Trasande, Direktur Pusat Investigasi Bahaya Lingkungan di Fakultas Kedokteran Grossman, Universitas New York, AS juga menemukan bahaya plastik terkait bahan tambahan pembuatan plastik seperti bisfenol A (BPA) dan ftalat. Penelitiannya dituangkan dalam sebuah buku: Resiko Bahan Tambahan Makanan dan bahan Kimia Kontak Terhadap Bayi dan Anak. Buku ini ditulis bersama Rachel M Shaffer dan Sheela Sathyanarayana Perhimpunan Dokter Anak Amerika (American Academy of Pediatrics/AAP) pada tahun 2018.

Menurut AAP (American Academy of Pediatric), pemanfaatan bahan kimia berbahaya makin memprihatinkan. Antara lain, BPA yang digunakan untuk melapisi wadah logam untuk mencegah korosi, ftalat yang sering digunakan dalam bahan perekat, pelumas, membuat plastik kemasan lebih fleksibel dan tahan lama, serta sejumlah bahan kimia lain.

BPA dalam konsentrasi rendah yang ditemui orang dalam kehidupan sehari-hari bisa memicu konversi sel menjadi adiposit (liposit dan sel lemak yang menyusun jaringan adiposa, tempat energi disimpan dalam bentuk lemak), mengganggu fungsi sel beta pankreas, dan memengaruhi transportasi glukosa dalam adiposit.

Sementara ftalat dimetabolisme menjadi zat-zat kimia yang memengaruhi ekspresi pengatur utama metabolisme lipid dan karbohidrat, serta menimbulkan resistensi insulin (hagian dari sistem endokrin) pada penelitian di laboratorium.

“Sejumlah penelitian menunjukkan efek metabolik serupa pada manusia, Beberapa ftalat terkenal menghambat androgen (hormon laki-laki dalam tubuh) dan dapat memengaruhi perkembangan reproduksi janin,” demikian pernyataan APP

Pada anak, mengingat sistem metabolisme dan kemampuan detoksifikasi pada anak masih berkembang, paparan zat-zat kimia itu bisa memicu diabetes dan obesitas pada anak.

Pengganti BPA Tidak Lebih Aman

Pengganti BPA yang digunakan dalam produk yang dipasarkan sebagai “bebas BPA”, yakni BPS (bisfenol S) dan BPF (bisfenol F), diperkirakan memiliki efek serupa dengan BPA. Hasil penelitian Universitas Texas dan Washington State University mendapatkan, dengan dosis satu bagian per triliun, BPS dapat mengganggu fungsi sel. Sebuah penelitian tahun 2019 dari Universitas New York mengaitkan obesitas pada anak-anak dengan BPS dan BPF.

Tahun 1988, industri plastik menghasilkan kode identifikasi standar untuk tujuh jenis resin plastik yang paling umum beredar. Angka-angka kecil yang ditemukan di bagian bawah botol soda dan wadah yogurt memberi petunjuk tentang jenis plastik wadah makanan atau minuman yang digunakan. Sebagian besar wadah makanan itu terbuat dari polietilen densitas rendah atau polipropilen.

Para peneliti tidak yakin seberapa banyak paparan bahan kimia dari kemasan makanan dan wadah penyimpanan, yang pasti plastik bukan bahan yang stabil. Menurut Trasande, saat terkena panas, misalnya di mierowave, polietilen dan polipropilen dapat terurai, melepaskan bahan kimia yang tidak diketahui ke makanan dan minuman. Tanpa panas pun, makanan berminyak mampu menguraikan sejumlah bahan kimia plastik.

Karena itu, AAP mengingatkan, meski berlabel “aman untuk microwave dan mesin pencuci piring”, panas tidak aman untuk plastik. Suhu tinggi bisa memutus ikatan kimia dalam plastik dan meningkatkan perpindahan zat kimia dari wadah plastik ke makanan.

Do and Dont

Demi keamanan anak-anak, AAP menyarankan orangtua menggunakan wadah kaca atau keramik. Selain itu, biasakan mengecek kode daur ulang di bagian bawah produk untuk mengetahui jenis plastik. Hindari plasti k dengan kode daur ulang 3 (ftalat), 6 (stirena), dan 7 (bisfenol) kecuali jika plastik diberi label “biobased”atau “greenware” yang menunjukkan produk terbuat dari jagung dan tidak mengandung bisfenol.

Saran lain, jangan menyimpan makanan berlemak atau berminyak dalam wadah plastik, banyak bahan kimia dalam plastik dapat larut dalam lemak. Kurangi juga botol air plastik yang berkontribusi pada penyebaran mikroplastik di alam.

Demikian bahasan kali ini tentang bahaya dari plastik kemasan , semoga berguna bagi kita semua. Kami di RumahBiru senantiasa mencoba untuk membangun literasi tentang lingkungan dan perubahan iklim.

Sumber : Kompas

 

14 Likes

Author: Rully Syumanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *