Suhu Terpanas Dalam Sejarah

Perubahan Iklim | Suhu terpanas dalam sejarah akhirnya tersentuh. Dampak merusak yang dilakukan oleh umat manusia terhadap iklim adalah “fakta”, kata ilmuwan PBB dalam sebuah studi penting. Emisi yang membuat suhu Bumi menghangat seperti yang kita rasakan saat ini berkemungkinan melewati batas hanya dalam waktu 10 tahun. Laporan IPCC adalah ‘kode merah bagi umat manusia’

Mereka juga memperkirakan bahwa akibat dari kenaikan suhu tersebut akan memicu kenaikan permukaan laut mendekati dua meter di akhir abad ini. Sebagai gambaran, saat ini Indonesia mengalami kenaikan permukaan laut sebesar 1 – 1,5 cm yang mengakibatkan kenaikan tinggi gelombang laut saat monsun di laut Jawa hingga 3 – 5 meter. Secara umum, Indonesia mengalami ancaman gagal tanam akibat hujan yang terus menerus yang mempengaruhi pasokan pangan dimasa mendatang.

Butuh Pengurangan Tajam Emisi

Laporan ini membuka serangkaian laporan lain yang akan diterbitkan dalam beberapa bulan mendatang dan merupakan tinjauan besar yang pertama dari segi sains perubahan iklim sejak 2013.

“Laporan Kelompok Kerja 1 IPCC yang diterbitkan hari ini adalah kode merah untuk umat manusia,” kata Sekretaris Jenderal PBB, Antonio Guterres.

“Jika kita menyatukan kekuatan sekarang, kita dapat menghindari bencana iklim. Tapi, seperti yang dijelaskan oleh laporan pada hari ini, tidak ada waktu untuk penundaan dan tidak ada ruang untuk alasan.”

Dengan nada yang keras dan tegas, dokumen IPCC menyatakan bahwa “tidak dipungkiri lagi, manusia telah membuat suhu meningkat di atmosfer, lautan, dan daratan”.

Menurut Profesor Ed Hawkins dari Universitas Reading, Inggris, yang juga merupakan salah satu penulis laporan tersebut, para ilmuwan tidak bisa lebih jelas lagi.

“Ini adalah pernyataan yang memuat fakta, kita tidak bisa lebih yakin lagi; tidak bisa dipungkiri dan diperdebatkan, manusia telah membuat Bumi memanas.”

Petteri Taalas, Sekjen Organisasi Meteorologi Dunia, berkata, “Meminjam istilah dalam olahraga, atmosfer kita telah terpapar doping, artinya kita telah melihat peristiwa ekstrem terjadi lebih sering dari sebelumnya.”

Para penulis laporan menyebutkan, sejak 1970-an, suhu permukaan global telah meningkat lebih cepat ketimbang periode 50 tahunan lain, selama 2.000 tahun terakhir.”

Gelombang Panas Sampai Banjir

Pemanasan global ini “telah berdampak pada banyak cuaca dan peristiwa iklim ekstrem di semua wilayah di seluruh dunia”.

Apakah itu gelombang panas seperti yang baru-baru ini menerjang Yunani dan bagian barat Amerika Utara, atau banjir seperti di Jerman dan China, “atribusi gelombang panas pada pengaruh manusia telah menguat” di satu dekade terakhir.

Fakta-fakta di laporan IPCC

  • Suhu permukaan global 1,09C lebih tinggi dalam sepuluh tahun antara 2011-2020 dibandingkan 1850-1900
  • Lima tahun terakhir adalah suhu terpanas dalam sejarah sejak 1850.
  • Tingkat kenaikan permukaan laut baru-baru ini nyaris tiga kali lipat bila dibandingkan dengan tahun 1901-1971.
  • Pengaruh manusia sangat mungkin (90%) menjadi alasan utama mencairnya gletser secara global sejak 1990-an dan penurunan jumlah es di Laut Arktik.
  • Pemanasan ekstrem termasuk gelombang panas “hampir pasti” telah menjadi semakin sering terjadi dan semakin intens sejak 1950-an, sementara peristiwa pendinginan semakin jarang dan tidak terlalu parah.

Laporan terbaru ini juga semakin menjelaskan bahwa pemanasan yang kita rasakan hingga hari ini telah merubah banyak sistem penunjang di planet kita, yang tidak dapat dikembalikan dalam jangka waktu ratusan hingga ribuan tahun.

Lautan akan terus menghangat dan semakin asam. Pegunungan dan gletser kutub akan terus mencair selama puluhan atau ratusan tahun.

“Konsekuensi ini akan terus berlanjut atau semakin buruk setiap kali Bumi semakin panas,” kata Prof Hawkins.

“Dan untuk banyak konsekuensi di antaranya, tidak ada jalan untuk kembali.”

Untuk persoalan kenaikan permukaan laut, para ilmuwan telah membuat model perkiraan untuk emisi dengan level berbeda-beda.

Meski begitu, kenaikan permukaan laut sekitar dua meter di akhir abad ini tidak bisa terhindarkan — juga kenaikan lima meter pada 2150.

Dengan hasil seperti ini, meski kemungkinannya kecil, akan mengancam kehidupan jutaan orang yang hidup di wilayah pesisir dengan banjir pada 2100.

Aspek terpenting dalam laporan ini adalah perkiraan kenaikan suhu dan apa artinya bagi keselamatan umat manusia.

Nyaris semua negara di dunia turut menyepakati tujuan Perjanjian Iklim Paris pada 2015.

Pakta ini bertujuan untuk menjaga kenaikan suhu global di bawah 2C di abad ini, dan melanjutkan usaha untuk menekan kenaikan di bawah 1,5C.

Laporan baru ini menyatakan, dari semua skenario emisi yang diperkirakan oleh para ilmuwan, kedua target ini tidak akan tercapai abad ini, kecuali pengurangan karbon besar-besaran dilakukan.

Para saintis juga meyakini kenaikan suhu sebesar 1,5C akan terjadi pada 2040 dalam semua skenario. Jika emisi tidak juga dikurangi dalam beberapa tahun, kemungkinan ini akan terjadi lebih cepat.

Prediksi ini tertulis dalam laporan khusus IPCC pada 1,5C di 2018, dan studi terbaru ini mengkonfirmasinya.

“Kita akan mencapai satu setengah derajat di tahun-tahun terpisah jauh lebih awal. Kita telah melihatnya dalam dua bulan selama El Niño pada 2016,” ujar Prof Malte Meinshausen, salah satu penulis IPCC dari Universitas Melbourne di Australia.

IPCC memberi informasi berbasis sains kepada para pemimpin negara yang bisa mereka gunakan untuk merancang kebijakan tentang pemanasan global.

Laporan Penilaian tentang perubahan iklim yang komprehensif pertama mereka dirilis pada 1992. Keenam laporan dalam seri tahun ini akan dibagi menjadi empat volume. Laporan terbaru – dari para ilmuwan di Kelompok Kerja 1 IPCC – adalah volume pertama.

Konsekuensi suhu memanas melebihi 1,5C dalam periode beberapa tahun akan menyebabkan dampak luar biasa untuk dunia yang telah mengalami peningkatan pesat dalam kejadian iklim ekstrem, dengan kenaikan suhu sebesar 1,1C sejak masa pra-industri.

“Kita akan melihat gelombang suhu panas yang lebih intens dan lebih sering,” kata Dr Friederike Otto dari Universitas Oxford, Inggris, yang juga merupakan salah satu penulis laporan IPCC.

“Dan kita juga akan melihat peningkatan peristiwa hujan deras dalam skala global, termasuk peningkatan kekeringan di beberapa wilayah di dunia.”

Jadi, apa yang bisa kita lakukan?

Meskipun laporan ini lebih jelas dan tegas tentang efek buruk pemanasan global, para saintis mengatakan lebih berharap, bahwa jika kita dapat mengurangi emisi global hingga setengahnya pada 2030, dan mencapai net zero atau nol pada pertengahan abad ini, kita dapat menghentikan dan mungkin membalikkan kenaikan suhu.

Mencapai net zero atau nol bersih berarti melibatkan pengurangan emisi gas rumah kaca sebanyak mungkin menggunakan teknologi bersih, lalu mengubur pelepasan karbon yang tersisa dengan teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon, atau menyerapnya dengan menanam pohon.

“Pemikiran sebelumnya adalah, kita bisa mengalami kenaikan suhu bahkan setelah net zero,” kata penulis laporan yang lain, Prof Piers Forster dari Universitas Leeds, Inggris.

“Tapi sekarang kita berharap alam berbaik hati kepada kita dan jika kita mampu mencapai net zero, kita berharap tidak akan ada lagi kenaikan suhu; dan jika kita bisa mencapai net zero untuk gas-gas rumah kaca, kita pada akhirnya akan mampu membalikkan sebagian kenaikan suhu tersebut dan mengalami pendinginan suhu.”

Lima dampak di masa depan

  • Suhu global akan 1,5C lebih panas di atas level 1850-1900 pada 2040 dengan semua skenario emisi. Suhu terpanas dalam sejarah akan memiliki milestone yang berubah-ubah.
  • Kutub Utara kemungkinan akan kehabisan es pada bulan September setidaknya satu kali sebelum 2050, dalam semua skenario.
  • Akan ada peningkatan kejadian ekstrem berkaitan dengan iklim dengan skala “yang belum pernah terjadi sebelumnya” bahkan dengan kenaikan suhu sebesar 1,5C.
  • Peristiwa kenaikan permukaan laut ekstrem yang terjadi sekali dalam seabad di masa lalu diproyeksikan terjadi setidaknya setiap tahun di lebih dari setengah lokasi pengukuran ombak pada 2100.
  • Kemungkinan besar akan ada peningkatan dalam peristiwa kebakaran di banyak wilayah.
  • Meskipun proyeksi masa depan pemanasan global sangat jelas dalam laporan ini, dan banyak dampak yang tidak mungkin terhindarkan, para penulis memperingatkan tentang fatalisme.

“Menurunkan pemanasan global dapat meminimalkan kemungkinan kita mencapai titik kritis ini,” kata Dr Otto. “Kita belum tamat.”

Titik kritis yang disebutkannya merujuk pada ketika sebagian sistem iklim Bumi mengalami perubahan begitu besar karena suhu terpanas yang terus terjadi.

Bagi para pemimpin politik, laporan ini adalah salah satu dari sekian banyak peringatan tentang pemanasan global. Namun karena dikeluarkan mendekati COP26 yang akan dilaksanakan pada November, laporan ini memberi bobot ekstra.

52 Likes

Author: Rully Syumanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *