Perubahan Iklim Kerusakan Lingkungan Sungai Paling Tercemar Di Dunia, Citarum Juaranya

Sungai Paling Tercemar Di Dunia, Citarum Juaranya

Perubahan Iklim | Sungai paling tercemar di Dunia adalah Citarum. Menempatkannya sebagai sungai nomor satu paling tercemar. Sesuai dengan tagline Jabar Juara yang seharusnya untuk prestasi yang positif namun sekaligus mewakili reputasi terburuk.

Sungai ini adalah sungai terbesar dan terpanjang di Jawa Barat. Selama bertahun-tahun sungai ini menghadapi masalah yang sama, sampah plastik. Berganti pucuk pimpinan di Jabar tidak pernah menyelesaikan masalah yang satu ini. Demikian hasil penelitian ibanplastic.com yang menempatkan sungai ini sebagai sungai terkotor di dunia.

Diambil dari the thaiger, setiap tahunnya dunia memproduksi 300 juta ton plastik dan 8.8 juta ton diantaranya langsung dibuang laut. Sampah plastik tersebut diantaranyta terdiri dari 40 miliar botol plastik, 100 miliar kantong plastik sekali pakai dan 522 juta item plastik untuk perawatan pribadi.

Baca Juga
Klinik Autism Utama di Indonesia
Bertani, Berkebun atau sekedar hobby, kunjungi yang satu ini.
Informasi berkaitan dengan autism
Apa itu Autis
Apakah Anak Saya Autis?
Dibalik Autism, Lebih Dari Sekedar Gen

Sampah plastik itu terdiri atas sekitar 40 miliar botol plastik, 100 miliar kantong plastik sekali pakai, dan 522 juta item perawatan pribadi. Lebih dari 270 ribu plastik tersebut melayang-layang di permukaan laut.

Bahaya Nanoplastik

Yang mengkhawatirkan adalah, plastik-plastik tersebut terpecah menjadi 5 triliun potongan mikro plastik yang masuk ke lautan, dimakan oleh ikan dan dikonsumsi oleh manusia.

Bisakah Anda membayangkan berapa banyak 270.000 ton plastik itu? Ini setara dengan 33.750.000 bola bowling, 135.000 mobil, 130.000 kapal berukuran sedang, 1.225 kereta barang, atau 36.000 gajah dewasa.

Jelas, jumlah sampah plastik saat ini mendatangkan malapetaka pada keanekaragaman hayati laut tempat manusia menggantungkan hidup pada kebutuhan protein. Sekitar 700 spesies laut dalam bahaya kepunahan karena polusi plastik. Lebih dari 100.000 makhluk laut sudah mati karena plastik ini dan dua pertiga ikan di seluruh dunia masih menderita akibat mengkonsumsi plastik.

Cloud Hosting Indonesia

”Pada tahun 2050, akan ada lebih banyak plastik daripada ikan di lautan,” kata Eco News.

Tentu saja, masalah plastik adalah masalah yang harus dihadapi manusia. Pilihan antara menguranginya atau menggunakan material pengganti selalu ada diatas meja. Ada banyak pilihan yang bisa dilakukan masyarakat. Namun lagi hal ini tentu tidak bisa berjalan sendiri. Butuh dukungan pemerintah

Baca Juga

9 Likes

Author: Rully Syumanda

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Translate »