Setiap hari, kita membuang sesuatu yang tidak lagi ingin kita lihat. Kantong sampah keluar dari rumah dan kemudian diangkut menuju tempat lain. Bagi banyak orang, perjalanan itu menandai akhir dari sebuah persoalan. Padahal, mengapa kita masih mengubur sampah justru menjadi pertanyaan yang semakin mendesak.
Selama puluhan tahun, sistem kita bekerja dengan pola sederhana. Sampah dikumpulkan, diangkut, lalu dibuang ke Tempat Pemrosesan Akhir. Setelah itu, sampah ditimbun dan perlahan menghilang dari pandangan kita. Masalahnya, sesuatu yang hilang dari pandangan belum tentu hilang dari lingkungan.
Kita sebenarnya tidak selalu mengelola sampah dengan baik. Sering kali, kita hanya memindahkan masalah dari rumah menuju lokasi lain. Dari dapur menuju TPS, kemudian berpindah lagi menuju TPA. Di tempat terakhir itulah, persoalan yang sebenarnya baru mulai menumpuk.
Data Sistem Informasi Pengelolaan Sampah Nasional menunjukkan besarnya persoalan sampah Indonesia. Data 2025 mencatat timbulan dari 278 kabupaten dan kota mencapai sekitar 29 juta ton. Sebagian besar sampah tersebut belum dikelola secara optimal. Sementara itu, TPA terus menerima sampah baru setiap hari.
Kita Tidak Menghilangkan Sampah
Mengubur sampah memberi kita perasaan bahwa masalah sudah selesai. Truk datang, sampah pergi, dan rumah kembali terlihat bersih. Tetapi sampah tidak menghilang hanya karena berpindah lokasi. Ia tetap berada di suatu tempat dan terus membawa konsekuensi lingkungan.
Sampah organik akan membusuk dan menghasilkan gas. Sementara plastik dapat bertahan jauh lebih lama di lingkungan. Limbah tertentu bahkan dapat menghasilkan cairan yang mencemari tanah. Semua persoalan itu kemudian terkonsentrasi dalam satu kawasan besar.
TPA akhirnya menjadi halaman belakang dari gaya hidup modern. Kita menikmati barang, lalu membuangnya ketika tidak lagi diperlukan. Sistem kemudian meminta sebuah tempat untuk menerima seluruh sisa konsumsi tersebut. Dan selama tersedia lahan, kita merasa masalah masih dapat ditunda.
Padahal, lahan bukan sumber daya tanpa batas. Setiap TPA membutuhkan ruang yang semakin luas seiring pertumbuhan penduduk. Masyarakat juga semakin menolak tinggal berdekatan dengan gunungan sampah. Kita membutuhkan tempat untuk membuang, tetapi tidak ingin tempat itu dekat.
Mengapa Kita Masih Mengubur Sampah?
Jawabannya sebenarnya cukup sederhana dan sekaligus rumit. Mengubur sampah adalah sistem yang sudah lama kita kenal. Pemerintah daerah membangun jalur pengangkutan menuju lokasi pembuangan akhir. Masyarakat kemudian terbiasa menyerahkan seluruh persoalan kepada sistem tersebut.
Pola ini dikenal sebagai kumpul, angkut, lalu buang. Pola tersebut bekerja ketika jumlah sampah masih relatif terkendali. Masalah muncul ketika konsumsi tumbuh jauh lebih cepat daripada kapasitas pengelolaan. Sampah bertambah, tetapi sistem dasarnya tidak banyak berubah.
Pemerintah kini mengakui perlunya meninggalkan pola lama tersebut. KLH mendorong perubahan menuju pengurangan, pemilahan, dan pengolahan sejak sumbernya. Pemerintah juga menargetkan penghentian praktik open dumping di Indonesia. Artinya, mengubur sampah sembarangan semakin tidak dapat dipertahankan.
Masalahnya bukan hanya bagaimana membuang sampah dengan lebih rapi. Masalah yang lebih besar adalah mengapa sampah terus datang tanpa henti. TPA menerima akibat dari sistem konsumsi yang bekerja jauh sebelumnya. Karena itu, solusi tidak cukup dimulai dari gerbang TPA.
TPA Bukan Pabrik Penghilang Sampah
Kita sering memperlakukan TPA seperti tempat ajaib. Apa pun yang masuk ke sana dianggap selesai dari kehidupan kita. Padahal TPA hanya menjadi titik terakhir dalam rantai persampahan. Ia bukan mesin yang dapat menghapus material dari bumi.
Ketika kapasitas TPA terbatas, masalah segera menjadi lebih terlihat. Gunungan sampah bertambah dan umur operasional fasilitas semakin pendek. KLH bahkan memperingatkan banyak TPA Indonesia menghadapi risiko krisis kapasitas. Sebagian fasilitas juga masih menggunakan sistem open dumping.
Perubahan di Jakarta menunjukkan persoalan tersebut semakin nyata. Pemprov DKI mulai menerapkan controlled landfill di TPST Bantargebang secara bertahap. Kebijakan itu menjadi bagian dari transisi menghentikan praktik open dumping. Namun transisi juga membutuhkan lebih banyak sampah diolah sebelum ditimbun.
Ini menunjukkan satu kenyataan penting bagi kita semua. TPA tidak dapat terus menjadi tujuan utama setiap sampah. Semakin banyak sampah masuk, semakin cepat kapasitasnya mencapai batas. Karena itu, masa depan persampahan harus dimulai jauh sebelum truk datang.
Masalah Sampah Dimulai Sebelum Kita Membuangnya
Sampah sebenarnya lahir sejak sebuah barang dirancang. Kemasan sekali pakai menjadi contoh paling mudah untuk dipahami. Produk digunakan beberapa menit, tetapi materialnya bertahan sangat lama. Kemudian seluruh tanggung jawab berpindah kepada sistem persampahan.
Di sinilah persoalan menjadi lebih besar daripada perilaku individu. Masyarakat memang harus mengurangi dan memilah sampah. Tetapi produsen juga menentukan berapa banyak material akan berakhir sebagai sampah. Pemerintah kemudian menentukan apakah sistem mampu mengelolanya.
Kita tidak bisa terus meminta masyarakat menjadi satu-satunya penanggung jawab. Industri menghasilkan kemasan dan produk dengan umur pakai semakin pendek. Pasar kemudian mendorong konsumsi melalui kenyamanan dan kecepatan. Setelah itu, masyarakat diminta menyelesaikan sisa dari seluruh sistem tersebut.
Karena itu, pengelolaan sampah harus melihat rantai secara utuh. Pengurangan harus dimulai dari sumber dan desain produk. Pemilahan harus dilakukan sebelum berbagai material tercampur menjadi satu. Pengolahan kemudian harus disesuaikan dengan karakter setiap jenis sampah.
Kita Tidak Bisa Mengubur Masa Depan
Dunia mulai melihat sampah sebagai persoalan iklim dan lingkungan. Sampah organik yang membusuk di landfill dapat menghasilkan metana. Metana merupakan salah satu gas rumah kaca yang perlu dikendalikan. UNEP terus mendorong pengurangan emisi metana secara global.
Karena itu, mengubur sampah bukan sekadar persoalan mencari tanah kosong. Ada dampak terhadap udara, tanah, air, dan iklim. Semakin besar volume sampah, semakin besar pula risiko yang harus dikelola. Kita tidak bisa terus memperluas masalah hanya dengan memperluas lokasi pembuangan.
Indonesia sebenarnya sedang berada pada titik perubahan penting. Pemerintah mulai mendorong transformasi pengelolaan sampah secara nasional. Paradigma kumpul, angkut, dan buang mulai dianggap tidak lagi memadai. Arah baru menekankan pengurangan, pemilahan, pengolahan, dan ekonomi sirkular.
Namun perubahan sistem membutuhkan lebih dari sekadar teknologi baru. Kita juga harus mengubah cara berpikir tentang sesuatu yang disebut sampah. Tidak semua yang dibuang harus berakhir sebagai timbunan. Sebagian dapat dikurangi, digunakan kembali, didaur ulang, atau diolah.
Mengapa Kita Harus Berhenti Mengandalkan Kuburan Sampah?
TPA tetap dibutuhkan dalam sistem persampahan modern. Tetapi TPA seharusnya menjadi tempat terakhir bagi residu. Ia bukan tujuan utama bagi seluruh sampah yang dihasilkan masyarakat. Semakin sedikit material masuk, semakin panjang umur fasilitas tersebut.
Kita perlu membalik cara berpikir yang selama ini digunakan. Pertanyaan pertama bukan lagi, “Di mana sampah ini akan dibuang?” Pertanyaan pertama seharusnya, “Apakah sampah ini harus tercipta?” Setelah itu, barulah kita menentukan bagaimana mengelola sisanya.
Perubahan ini memang tidak mudah dan tidak bisa terjadi semalam. Kota membutuhkan fasilitas, pembiayaan, teknologi, dan sistem pengangkutan baru. Masyarakat membutuhkan kebiasaan pemilahan yang konsisten sejak rumah. Industri juga harus mengambil tanggung jawab atas produk yang mereka hasilkan.
Gw melihat persoalan ini sebagai cermin dari cara kita hidup. Kita sangat pandai menciptakan barang dan sangat cepat membuangnya. Tetapi kita belum sepenuhnya belajar bertanggung jawab terhadap apa yang tersisa. Akibatnya, bumi terus diminta menyediakan ruang bagi semua yang kita tinggalkan.
Mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi mengapa kita masih mengubur sampah. Pertanyaan yang lebih jujur adalah sampai kapan kita mengandalkan bumi sebagai kuburan. Sebab suatu hari, ruang itu benar-benar akan habis. Ketika saat itu tiba, apakah kita sudah belajar berhenti menciptakan masalah baru?










TERHUBUNG BERSAMA KAMI