Banjir Jakarta: Mengapa Kota Ini Terus Tenggelam?

Pemandangan banjir Jakarta yang menggenangi jalan utama dengan latar gedung-gedung tinggi, menggambarkan dampak perubahan iklim, hujan ekstrem, dan buruknya tata ruang perkotaan.
Banjir Jakarta bukan hanya dipicu oleh hujan deras, tetapi juga merupakan akumulasi dari perubahan iklim, penurunan muka tanah, hilangnya kawasan resapan, dan pembangunan kota yang mengabaikan keseimbangan ekologis.

Jakarta hampir selalu memiliki dua musim. Musim hujan, dan musim ketika semua orang kembali bertanya, “Mengapa Jakarta masih banjir?”

Pertanyaan itu muncul hampir setiap tahun. Air menggenangi jalan utama, permukiman berubah menjadi danau dadakan, aktivitas ekonomi berhenti, sekolah diliburkan, dan ribuan orang harus meninggalkan rumahnya. Anehnya, setelah air surut, diskusi yang muncul hampir selalu sama. Hujan dianggap sebagai penyebab utama, seolah banjir adalah peristiwa alam yang tidak mungkin dihindari.

Padahal hujan hanyalah pemicu. Penyebab sebenarnya jauh lebih kompleks.

Memahami banjir Jakarta juga berarti memahami bagaimana perubahan iklim bertemu dengan tata ruang kota, pertumbuhan penduduk, dan keputusan pembangunan yang telah berlangsung selama puluhan tahun.


Hujan Lebat Bukan Satu-Satunya Penyebab

Jakarta memang menerima curah hujan tinggi pada musim penghujan. Namun banyak kota lain di dunia mengalami curah hujan yang sama tanpa mengalami banjir sebesar Jakarta.

Masalahnya terletak pada kombinasi berbagai faktor.

Sebagian wilayah Jakarta berada di dataran rendah yang dialiri 13 sungai. Pada saat yang sama, banyak kawasan resapan telah berubah menjadi permukiman, kawasan industri, maupun pusat bisnis. Ketika hujan turun, air kehilangan ruang untuk meresap sehingga mengalir lebih cepat menuju kawasan yang lebih rendah.

Perubahan pola hujan akibat krisis iklim juga memperburuk situasi. Menurut Intergovernmental Panel on Climate Change (IPCC), perubahan iklim meningkatkan frekuensi dan intensitas hujan ekstrem di banyak wilayah dunia, termasuk kawasan Asia Tenggara.


Kota yang Perlahan Tenggelam

Yang membuat banjir Jakarta berbeda dengan banyak kota lain adalah kenyataan bahwa sebagian wilayahnya terus mengalami penurunan muka tanah.

Pengambilan air tanah secara berlebihan menyebabkan beberapa kawasan turun beberapa sentimeter setiap tahun. Di sisi lain, permukaan laut di pesisir utara Jakarta terus meningkat akibat pemanasan global.

Kombinasi kedua faktor tersebut membuat risiko banjir semakin besar, bahkan ketika curah hujan tidak terlalu tinggi.

Fenomena ini juga berkaitan dengan dampak yang lebih luas dari pemanasan global dan meningkatnya berbagai dampak perubahan iklim yang mulai dirasakan di berbagai wilayah Indonesia.


Ketika Tata Ruang Kehilangan Fungsi

Banjir sebenarnya adalah cara alam mengingatkan bahwa air selalu mencari ruangnya sendiri.

Selama puluhan tahun, pembangunan kota lebih sering berfokus pada memperluas kawasan terbangun dibanding menjaga ruang terbuka hijau, rawa, maupun daerah resapan.

Akibatnya, air yang dahulu terserap ke dalam tanah kini langsung mengalir ke jalan, permukiman, dan saluran drainase yang kapasitasnya terbatas.

Menurut UN-Habitat, kota yang tangguh terhadap perubahan iklim memerlukan pendekatan berbasis alam atau nature-based solutions, seperti memperluas ruang hijau, memulihkan sungai, dan meningkatkan kapasitas resapan air.


Krisis Iklim Membuat Risiko Semakin Besar

Perubahan iklim tidak menciptakan banjir Jakarta. Namun perubahan iklim memperbesar risiko yang sudah ada.

Atmosfer yang lebih hangat mampu menyimpan lebih banyak uap air. Ketika hujan turun, intensitasnya dapat menjadi jauh lebih tinggi dibanding sebelumnya.

Organisasi Meteorologi Dunia (WMO) menjelaskan bahwa meningkatnya kejadian cuaca ekstrem merupakan salah satu dampak yang semakin nyata dari perubahan iklim global.

Karena itu, membahas banjir Jakarta tidak bisa dilepaskan dari pembahasan mengenai krisis iklim Indonesia maupun berbagai tantangan adaptasi perubahan iklim.


Apakah Solusinya Hanya Membangun Infrastruktur?

Pompa, tanggul, waduk, maupun sodetan sungai tetap memiliki peran penting.

Namun berbagai penelitian menunjukkan bahwa infrastruktur saja tidak cukup.

Jakarta juga membutuhkan tata ruang yang lebih disiplin, perlindungan kawasan resapan, pengurangan pengambilan air tanah, sistem transportasi yang lebih berkelanjutan, serta pengelolaan sungai yang memulihkan fungsi ekologinya.

Banjir bukan hanya persoalan teknik sipil. Ia juga merupakan persoalan kebijakan, ekonomi, dan cara sebuah kota memilih tumbuh.


Yang Dipertaruhkan Bukan Hanya Jakarta

Apa yang terjadi di Jakarta hari ini dapat menjadi gambaran bagi banyak kota lain di Indonesia.

Ketika ruang hijau terus menyusut, suhu meningkat, dan pola hujan berubah, berbagai kota akan menghadapi tantangan yang serupa.

Karena itu, membangun kota yang tangguh bukan hanya tentang mengurangi genangan, tetapi juga memastikan masyarakat mampu hidup lebih aman di tengah perubahan iklim yang terus berlangsung.


Kesimpulan

Banjir Jakarta bukan sekadar cerita tentang hujan deras. Ia adalah hasil dari pertemuan antara perubahan iklim, penurunan muka tanah, tata ruang yang tidak berkelanjutan, dan tekanan pembangunan yang berlangsung selama puluhan tahun.

Selama banjir hanya dipahami sebagai persoalan cuaca, solusi yang muncul akan selalu bersifat sementara. Namun ketika kita melihatnya sebagai bagian dari krisis iklim dan cara kita membangun kota, pertanyaannya berubah.

Bukan lagi “Mengapa Jakarta banjir?”, melainkan “Masih seperti apa kita ingin membangun kota agar banjir tidak terus menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari?”


Tonton Video Terkait

Jangan Lewatkan! Tonton Video di Atas dan Pelajari Lebih Dalam.