Fossil of the Day cuma gejala. Di balik itu, ada cerita lebih gelap: negara yang pelan-pelan dipinjam suaranya oleh industri fosil.

Negara bicara atas nama “kita” di forum iklim. Tapi ketika banjir datang dan panen hancur, siapa sebenarnya yang disuruh menanggung resikonya?

Saat nama Indonesia dibacakan di panggung COP30, bukan sebagai “climate leader”, tapi sebagai *Fossil of the Day*. Pertanyaannya: kita marah sebentar, atau mau berubah?

Keamanan iklim global kini tak lagi sekadar isu lingkungan. Ia telah menjadi urusan politik, diplomasi, dan bahkan perdamaian dunia yang diperdebatkan di PBB.

Krisis iklim bukan soal cuaca, tapi soal keadilan. Pendanaan iklim global hari ini masih berpihak pada mereka yang berkuasa, bukan yang bertahan.

Politik Iklim Indonesia bukan soal cuaca, tapi soal keberanian menentukan arah masa depan bumi.