Banyak anak muda disebut terlalu cemas. Tetapi bagaimana jika kecemasan itu bukan kelemahan, melainkan respons yang masuk akal terhadap dunia yang semakin tidak pasti?

Apakah hidup akan semakin mahal? Ketika cuaca berubah, yang pertama kali terasa mungkin bukan bencana, melainkan tagihan yang terus bertambah.

Banyak keputusan yang menentukan masa depan dibuat sebelum kita cukup umur untuk memilih. Tetapi akibatnya akan tinggal bersama kita jauh lebih lama.

Generasi yang ditagih bukan sekadar mewarisi bumi yang lebih panas. Mereka juga mewarisi biaya hidup yang lebih mahal, risiko yang lebih besar, dan keputusan yang tidak pernah mereka buat.

Selamatkan bumi terdengar mulia, tapi siapa yang sebenarnya sedang kalah duluan: planetnya, atau manusia yang makin sulit hidup layak?

Musim aneh sering jadi cara halus kita menolak krisis iklim yang sudah masuk ke hidup harian.

Krisis iklim tidak lagi jauh. Ia hadir lewat panas, banjir, harga pangan, dan hidup yang makin berat.

Milenial dan Gen Z tidak cuma mewarisi krisis iklim, tapi juga tagihan politik yang tak mereka buat.

Saat nama Indonesia dibacakan di panggung COP30, bukan sebagai “climate leader”, tapi sebagai *Fossil of the Day*. Pertanyaannya: kita marah sebentar, atau mau berubah?