Saat Kita Tertawa, Siapa yang Sedang Bicara?
Saya jujur ketawa waktu baca berita Indonesia dapat Fossil of the Day di COP30. Ketawa getir, bukan senang. Di panggung global, nama kita dibacakan bak acara penghargaan, tapi kategorinya “yang paling menghambat”.
Lucu, kalau kita tahan diri untuk tidak bertanya: di ruangan itu, siapa yang sebenarnya bicara atas nama Indonesia?
Gw makin kepikiran ketika tahu ada puluhan perwakilan industri fosil yang nempel di delegasi. Di media sosial, obrolannya cepat geser ke gosip klasik: “Itu pasti perusahaan A, B, C.” Tapi kalau kita berhenti di daftar nama, kita justru melewatkan cerita besar:
ini bukan soal satu dua perusahaan rakus. Ini soal corporate capture iklim.
Corporate Capture Iklim: Saat Negara Menyewa Suara
Corporate capture iklim, dalam bahasa brutal, adalah momen ketika kebijakan iklim perlahan ditulis dengan aksen korporasi. Negara tetap pakai logo garuda, tetap bicara “atas nama rakyat”, tapi isi kalimatnya mirip banget dengan presentasi boardroom.
Kita sering bayangkan lobi itu kayak adegan film: ada orang bersetelan rapi, bisik-bisik di lorong konferensi, tukar kartu nama. Kenyataannya lebih halus. Mereka ikut rombongan resmi, duduk di panel, pakai sudut pandang “solusi pasar”, dan pelan-pelan menggeser definisi kata “ambisius”, “adil”, dan “transisi”.
Masalahnya, krisis iklim itu bukan sekadar soal angka emisi. Ini soal siapa yang boleh menentukan jalan keluar. Ketika corporate capture iklim makin kuat, arah kompas berubah perlahan: dari “bagaimana melindungi warga paling rentan”,jadi “bagaimana menyelamatkan model bisnis sambil kelihatan hijau”.
Negara masih bicara “kita”, tapi “kita” yang dimaksud makin sempit.
Apa yang Sebenarnya Sudah Kita Lihat, Tapi Sering Kita Normalisasi
Kalau saya jujur, sinyal-sinyal ini sudah lama muncul, jauh sebelum Fossil of the Day. Kita cuma terlalu sibuk atau terlalu capek untuk merangkainya.
Kita lihat BUMN energi bicara soal “transisi” sambil tetap mengawal batu bara dan migas sebagai tulang punggung. Kita lihat bank dan investor mempromosikan pembiayaan hijau, tapi portofolio fosilnya masih tebal. Kita lihat regulasi pasar karbon disusun rapi, sementara pengurangan emisi di lapangan masih bisa dinegosiasikan lewat offset.
Itu semua bukan kebetulan acak. Itu pola.
Dan pola ini bikin corporate capture iklim terasa “normal”:
Normal kalau pertemuan penting kebijakan dihadiri lebih banyak perwakilan industri daripada komunitas terdampak.
Normal kalau setiap kritik ke proyek fosil dibalas dengan kata kunci “investasi”, “lapangan kerja”, dan “pertumbuhan”.
Normal kalau ruang masyarakat sipil di forum internasional lebih sempit daripada panggung korporasi yang jual narasi “net zero”.
Pelan-pelan, kita ikut menelan narasi itu. Kita ikut percaya bahwa solusi iklim selalu harus “bankable”, “attractive”, dan “win–win” buat semua, termasuk mereka yang paling banyak menyumbang masalah.
Keluar dari Corporate Capture Iklim, Bukan Cuma Soal Ganti Tokoh
Kalau masalahnya adalah corporate capture iklim, solusinya tidak berhenti di ganti menteri, ganti direktur, atau ganti nama program. Kita butuh sesuatu yang lebih nggak nyaman: mengutak-atik ulang siapa yang boleh duduk, bicara, dan memegang pena ketika kebijakan iklim ditulis.
1. Mengakui dulu bahwa ini masalah politik, bukan teknis
Selama kita pura-pura menganggap ini urusan teknis “pasar karbon”, “mekanisme internasional”, atau “aturan UNFCCC yang rumit”, kita akan selalu ketinggalan. Ini soal kekuasaan.
Siapa yang punya akses ke dokumen draf pertama?
Siapa yang diajak konsultasi, siapa yang cuma disuruh hadir di dengar pendapat formalitas?
Begitu kita berani mengaku ini masalah politik, kita punya ruang untuk bertanya:
apakah wajar industri yang menyebabkan krisis ikut menentukan bagaimana krisis ini diselesaikan?
2. Menuntut transparansi: bukan sekadar nama, tapi jejak pengaruh
Orang sering berhenti di permintaan “buka daftar delegasi”. Itu penting, tapi belum cukup. Yang perlu kita tahu juga adalah:
Delegasi berdiskusi dengan siapa saja sebelum pergi ke COP.
Masukan siapa yang paling sering masuk ke poin-poin posisi resmi.
Kapan masyarakat sipil, komunitas terdampak, dan akademisi independen benar-benar didengar, bukan sekadar diajak foto.
Transparansi bukan cuma soal “siapa hadir”. Ini soal siapa yang idenya dipakai.
3. Menguatkan suara yang selama ini dipinggirkan
Kalau corporate capture kuat, itu artinya ada pihak lain yang pelan-pelan disingkirkan dari meja. Masyarakat adat, komunitas pesisir, warga di lingkar tambang, anak muda, serikat pekerja energi – mereka sering cuma muncul di brosur, bukan di ruangan ketika draft keputusan disusun.
Keluar dari capture butuh kerja panjang:
- bikin ruang konsultasi yang beneran, bukan formalitas;
- mendanai partisipasi komunitas, bukan cuma perjalanan delegasi resmi;
- memberi waktu, bukan cuma panggung lima menit.
Kita nggak bisa terus berharap suara rakyat kuat kalau akses mereka ke prosesnya dibuat mahal dan rumit.
4. Mengubah cara kita mengukur “sukses” dalam kebijakan iklim
Selama sukses diukur dari berapa besar investasi masuk, berapa banyak proyek “hijau” diresmikan, corporate capture akan selalu punya bahan jualan.
Ukuran sukses kita harus geser ke hal-hal yang jauh lebih membumi:
- berapa banyak PLTU yang benar-benar dipensiunkan lebih cepat;
- berapa banyak pekerja yang pindah ke pekerjaan rendah karbon tanpa jatuh miskin;
- berapa banyak desa yang listriknya stabil dari energi bersih, bukan cuma janji.
Tanpa indikator semacam ini, apa pun bisa dipoles jadi “solusi”.
Kalau Negara Dipinjam Suaranya, Kita Mau Diam Saja?
Fossil of the Day mungkin akan lewat dari siklus berita beberapa hari. Timeline akan pindah ke isu lain, skandal baru, drama politik baru. Tapi corporate capture iklim tidak pergi ke mana-mana. Ia tetap duduk di ruang rapat, di nota dinas, di draft regulasi, di angka-angka yang memutuskan siapa yang boleh terus mengeluarkan emisi dan siapa yang harus menanggung dampaknya.
Pertanyaannya buat kita sederhana tapi nggak nyaman:
kalau negara bisa dipinjam suaranya oleh mereka yang paling diuntungkan dari status quo, kita mau jadi apa? Penonton yang cuma komentar di medsos, atau orang-orang yang pelan-pelan, konsisten, merampas kembali ruang bicara atas nama masa depan iklim kita sendiri?
























Leave a Reply