Masa Depan yang Tidak Kita Pilih

Masa Depan yang Tidak Kita Pilih digambarkan melalui anak muda yang berdiri di tengah persimpangan kota modern.
Banyak keputusan yang membentuk masa depan dibuat tanpa melibatkan mereka yang akan hidup paling lama dengan akibatnya.

Ada ironi yang jarang dibahas ketika kita berbicara tentang masa depan. Sebuah masa depan yang tidak kita pilih. Mereka yang akan hidup paling lama dengan akibat suatu keputusan sering kali menjadi pihak yang paling sedikit dilibatkan saat keputusan itu dibuat.

Anak muda hari ini tidak pernah diminta memilih apakah kota mereka akan dipenuhi kendaraan pribadi atau transportasi publik. Mereka tidak pernah diminta menentukan apakah energi akan tetap bergantung pada bahan bakar fosil. Mereka juga tidak pernah duduk di ruang rapat ketika hutan dibuka, lahan dialihfungsikan, atau tata ruang kota ditentukan.

Namun mereka akan hidup paling lama dengan seluruh akibatnya.

Inilah yang saya maksud dengan masa depan yang tidak kita pilih.

Ketika Keputusan Hidup Lebih Lama dari Pembuatnya

Banyak keputusan politik terlihat sederhana ketika diumumkan.

Sebuah jalan dibangun. Sebuah kawasan industri dibuka. Sebuah pembangkit listrik disetujui. Sebuah kawasan hijau berubah fungsi.

Namun dampaknya bisa bertahan puluhan tahun.

Pembangkit listrik berbahan bakar fosil yang dibangun hari ini dapat beroperasi selama 30 hingga 40 tahun. Infrastruktur perkotaan yang buruk bisa memengaruhi kualitas hidup beberapa generasi sekaligus. Tata ruang yang salah dapat membuat sebuah kota lebih rentan terhadap banjir, kemacetan, dan panas ekstrem selama puluhan tahun.

Keputusan mungkin dibuat dalam satu masa jabatan.

Tetapi akibatnya bisa melampaui beberapa generasi.

Mengapa Anak Muda Merasa Tidak Punya Kendali?

Banyak anak muda merasa masa depan semakin tidak pasti.

Sebagian menganggap itu hanya persoalan ekonomi.

Sebagian melihatnya sebagai persoalan pekerjaan.

Sebagian lagi menghubungkannya dengan perubahan iklim.

Menurut saya semuanya saling terhubung.

Ketika harga rumah semakin sulit dijangkau, ketika biaya hidup naik lebih cepat daripada pendapatan, ketika cuaca semakin tidak menentu, muncul perasaan bahwa hidup sedang bergerak ke arah yang tidak sepenuhnya bisa kita kendalikan.

Perasaan itu bukan muncul dari ruang kosong.

Ia muncul karena banyak keputusan yang memengaruhi masa depan dibuat jauh dari kehidupan sehari-hari masyarakat.

Perubahan Iklim Adalah Persoalan Politik

Banyak orang masih menganggap perubahan iklim sebagai isu lingkungan semata. Padahal pada akhirnya perubahan iklim adalah persoalan keputusan.

Keputusan tentang energi. Keputusan tentang transportasi. Keputusan tentang tata ruang. Keputusan tentang pembangunan.

Setiap keputusan itu menentukan seperti apa dunia yang akan diwariskan kepada generasi berikutnya. Karena itu perubahan iklim tidak bisa hanya dibicarakan oleh ilmuwan. Ia juga harus dibicarakan oleh warga.

Jika tidak, masa depan akan terus dibentuk oleh segelintir orang sementara mayoritas hanya menerima hasil akhirnya.

Dari Penonton Menjadi Pemilik Masa Depan

Masalah terbesar bukanlah bahwa anak muda tidak memiliki suara.

Masalah terbesar adalah banyak anak muda percaya suara mereka tidak penting.

Padahal sejarah menunjukkan perubahan besar sering dimulai dari kelompok yang sebelumnya dianggap tidak memiliki kekuatan.

Hak memilih.

Hak pendidikan.

Hak pekerja.

Hak perempuan.

Semuanya lahir karena ada orang yang menolak menerima keadaan sebagai sesuatu yang tidak bisa diubah.

Hal yang sama berlaku untuk masa depan.

Generasi muda mungkin tidak menentukan keputusan masa lalu.

Tetapi mereka masih bisa memengaruhi keputusan yang dibuat hari ini.

Siapa yang Seharusnya Menentukan Masa Depan?

Pertanyaan ini semakin penting karena dunia sedang berubah lebih cepat dibanding sebelumnya.

Krisis iklim, transformasi teknologi, perubahan ekonomi, dan dinamika politik akan membentuk kehidupan jutaan orang selama beberapa dekade ke depan.

Jika keputusan hanya ditentukan berdasarkan kepentingan jangka pendek, maka generasi berikutnya akan terus menerima tagihan yang tidak pernah mereka setujui.

Karena itu diskusi tentang masa depan bukan hanya soal apa yang akan terjadi.

Diskusi tentang masa depan juga soal siapa yang berhak ikut menentukan arahnya.

Masa depan yang tidak kita pilih adalah kenyataan yang dihadapi banyak anak muda hari ini. Mereka lahir di tengah keputusan yang sudah dibuat dan harus hidup dengan akibatnya selama puluhan tahun.

Tetapi masa depan tidak harus selalu menjadi warisan yang diterima begitu saja.

Ada perbedaan besar antara menerima masa depan dan ikut membentuk masa depan.

Pertanyaannya, jika keputusan hari ini akan menentukan kehidupan kita selama puluhan tahun ke depan, apakah kita akan tetap menjadi penonton atau mulai ikut menentukan arahnya?


Artikel Terkait