Kita sering mendengar tentang emisi, karbon, atau target net zero. Tetapi bagi banyak anak muda, persoalannya jauh lebih sederhana. Mereka bertanya siapa yang akan hidup paling lama dengan akibat dari semua keputusan yang dibuat hari ini. Inilah alasan mengapa saya menyebut generasi muda sebagai generasi yang ditagih.
Mereka lahir ketika banyak keputusan besar tentang energi, pembangunan, transportasi, dan tata kota sudah diambil. Mereka tidak duduk di ruang rapat saat keputusan itu dibuat. Mereka tidak ikut menyusun kebijakan. Namun mereka akan hidup paling lama dengan akibatnya.
Tagihannya bukan datang dalam bentuk surat. Tagihannya datang dalam bentuk kehidupan yang semakin mahal dan semakin tidak pasti.
Tagihan yang Tidak Pernah Disetujui
Perubahan iklim sering dibahas seolah-olah hanya persoalan lingkungan.
Padahal bagi banyak orang muda, perubahan iklim akan terasa sebagai persoalan ekonomi.
Harga pangan menjadi lebih rentan ketika cuaca semakin sulit diprediksi. Petani menghadapi musim yang berubah. Produksi pangan terganggu. Pada akhirnya, yang muncul di depan kita adalah harga beras yang naik dan biaya hidup yang semakin berat.
Di Indonesia, pemerintah bahkan harus mengantisipasi ancaman El Niño yang dapat mengganggu produksi pangan akibat musim kering yang lebih panjang.
Bagi generasi muda yang baru membangun karier, baru memikirkan rumah pertama, atau baru merencanakan keluarga, kondisi seperti ini bukan lagi isu lingkungan yang jauh. Ini adalah persoalan kehidupan sehari-hari.
Ketika biaya hidup naik lebih cepat daripada pendapatan, yang dipertaruhkan bukan hanya kenyamanan. Yang dipertaruhkan adalah masa depan.
Mengapa Anak Muda Merasa Cemas?
Banyak orang menganggap kecemasan iklim sebagai sesuatu yang berlebihan.
Padahal berbagai penelitian menunjukkan bahwa kekhawatiran tersebut sangat nyata.
Sebuah survei global terhadap 10.000 responden usia 16–25 tahun menemukan bahwa hampir 60% merasa sangat atau amat khawatir terhadap perubahan iklim. Sebanyak 75% merasa masa depan menakutkan dan lebih dari 45% mengatakan kekhawatiran iklim memengaruhi kehidupan sehari-hari mereka.
Menurut saya, masalahnya bukan karena anak muda terlalu sensitif.
Masalahnya karena mereka melihat sesuatu yang sering diabaikan generasi sebelumnya.
Mereka melihat bahwa masa depan tidak otomatis menjadi lebih baik.
Mereka melihat bahwa panas semakin ekstrem, biaya hidup meningkat, dan ketidakpastian bertambah.
Mereka melihat bahwa sebagian besar keputusan masih dibuat dengan cara berpikir lima tahun ke depan, sementara dampaknya bisa berlangsung puluhan tahun.
Siapa yang Menikmati, Siapa yang Membayar?
Ini pertanyaan yang sering membuat banyak orang tidak nyaman.
Selama puluhan tahun, pembangunan menghasilkan pertumbuhan ekonomi, listrik yang lebih mudah diakses, transportasi yang berkembang, dan berbagai kemudahan hidup.
Kita semua menikmati sebagian manfaatnya.
Namun biaya lingkungannya tidak pernah benar-benar hilang.
Biaya itu hanya ditunda.
Dan seperti semua utang, suatu hari harus dibayar.
Masalahnya, mereka yang menikmati manfaat terbesar belum tentu menjadi pihak yang membayar biaya terbesar.
Di sinilah persoalan keadilan muncul.
Bukan soal menyalahkan generasi tertentu. Bukan soal mencari kambing hitam.
Tetapi soal memastikan bahwa keputusan hari ini tidak memindahkan seluruh beban kepada mereka yang akan hidup paling lama di masa depan.
Generasi yang Ditagih Tidak Boleh Hanya Menjadi Penonton
Ada kabar baik di tengah semua kecemasan ini.
Anak muda tidak harus memilih antara pasrah atau marah.
Mereka bisa memilih untuk terlibat.
Survei menunjukkan banyak pemilih muda Indonesia menaruh perhatian besar pada isu perubahan iklim, bahkan ketika isu tersebut belum selalu menjadi prioritas utama dalam percakapan politik nasional.
Memahami perubahan iklim penting.
Tetapi memahami saja tidak cukup.
Kita juga perlu bertanya siapa yang membuat keputusan, siapa yang memperoleh manfaat, dan siapa yang menanggung risikonya.
Karena masa depan tidak hanya dibentuk oleh cuaca.
Masa depan juga dibentuk oleh kebijakan.
Generasi yang ditagih bukanlah generasi yang harus menerima semuanya dengan pasrah. Mereka adalah generasi yang berhak bertanya, berhak menagih, dan berhak ikut menentukan arah masa depan.
Pertanyaan yang tersisa bukan apakah perubahan iklim akan memengaruhi kehidupan kita.
Pertanyaannya adalah, ketika tagihan itu semakin besar, apakah kita hanya akan membayarnya, atau mulai ikut menentukan siapa yang seharusnya bertanggung jawab?










Leave a Review