Fossil of the Day cuma gejala. Di balik itu, ada cerita lebih gelap: negara yang pelan-pelan dipinjam suaranya oleh industri fosil.
Negara bicara atas nama “kita” di forum iklim. Tapi ketika banjir datang dan panen hancur, siapa sebenarnya yang disuruh menanggung resikonya?
Saat nama Indonesia dibacakan di panggung COP30, bukan sebagai “climate leader”, tapi sebagai *Fossil of the Day*. Pertanyaannya: kita marah sebentar, atau mau berubah?
Dari mekanisme teknis Article 6.4 sampai ribut di COP30, tarik-menarik antara integritas iklim dan kepentingan dagang Indonesia makin kelihatan telanjang.
Pasal 6.4: pasar karbon versi resmi Perjanjian Paris, bisa jadi alat transisi energi, bisa juga jadi pintu belakang greenwashing kalau aturannya longgar.
Kadang gw curiga forum macam COP30 itu cuma panggung megah buat menunda kenyataan yang sebenarnya sudah kita pahami sejak lama.
Kita diajak menanam pohon dan kurangi plastik, tapi lupa siapa yang menebang dan memproduksi.
Keamanan iklim global kini tak lagi sekadar isu lingkungan. Ia telah menjadi urusan politik, diplomasi, dan bahkan perdamaian dunia yang diperdebatkan di PBB.
Krisis iklim bukan soal cuaca, tapi soal keadilan. Pendanaan iklim global hari ini masih berpihak pada mereka yang berkuasa, bukan yang bertahan.
Terminologi sesat dalam perubahan iklim adalah bahasa halus yang menipu publik dan menunda aksi nyata.

















Punya pertanyaan?
Kunjungi mediasosial kami atau Hubungi kami dan kami akan kembali ke anda secapat yang kami bisa.