Krisis iklim Indonesia bukan hanya soal cuaca. Di balik berbagai solusi hijau, tersimpan pertanyaan tentang keadilan, biaya, dan masa depan.

"Setiap generasi mewarisi dunia yang dibentuk oleh generasi sebelumnya. Namun sejarah selalu berubah ketika anak muda memutuskan untuk tidak sekadar mewarisi, melainkan ikut membentuk masa depan."

Kekeringan bukan hanya soal musim kemarau. Ia adalah tanda bahwa hubungan antara manusia, alam, dan masa depan sedang mengalami tekanan yang semakin besar.

Banyak keputusan yang menentukan masa depan dibuat sebelum kita cukup umur untuk memilih. Tetapi akibatnya akan tinggal bersama kita jauh lebih lama.

Krisis iklim tidak lagi jauh. Ia hadir lewat panas, banjir, harga pangan, dan hidup yang makin berat.

Saat nama Indonesia dibacakan di panggung COP30, bukan sebagai “climate leader”, tapi sebagai *Fossil of the Day*. Pertanyaannya: kita marah sebentar, atau mau berubah?