Musim Aneh Itu Alibi Murahan

Musim aneh bukan kebetulan yang lucu lagi.
Musim aneh bukan kebetulan yang lucu lagi.

Musim aneh adalah kalimat paling sopan yang sering kita pakai untuk menghindari kenyataan buruk. Hujan turun saat harusnya panas, panas menggigit saat harusnya hujan, banjir datang seperti tamu yang tidak pernah diundang tapi selalu tahu alamat. Lalu kita berkata, “Ya namanya juga cuaca.” Kalimat itu terdengar tenang, bahkan dewasa. Padahal kadang ia cuma cara murah untuk menunda panik. Seperti melihat dapur terbakar, lalu berkata, “Kompor hari ini memang agak ekspresif.”

Kita tumbuh dengan ingatan musim yang lebih mudah dipahami. Kemarau berarti panas, hujan berarti basah, dan kalender sekolah biasanya masih cukup masuk akal untuk menebak kapan banjir datang. Sekarang semuanya seperti dibongkar orang yang sedang buru-buru. Hujan bisa turun terlalu deras dalam waktu pendek. Kemarau bisa terasa panjang, kering, dan membuat kulit kepala ingin mengundurkan diri dari jabatan. Di beberapa tempat, petani bingung kapan mulai tanam. Di kota, pekerja bingung apakah harus membawa jas hujan, masker, atau surat pengunduran diri dari kehidupan urban.

Masalahnya, kita terlalu sering memperlakukan perubahan itu sebagai gangguan kecil. Kita menyebutnya cuaca tidak menentu, langit lagi kacau, atau musim sedang bergeser. Semua istilah itu tidak salah, tapi bisa berbahaya kalau membuat kita gagal melihat pola. Satu banjir bisa disebut musibah. Dua kali banjir bisa disebut kebetulan yang menyebalkan. Tapi kalau banjir datang berulang, panas makin kasar, harga pangan ikut naik, dan tubuh makin sering lelah, mungkin masalahnya bukan lagi langit yang manja. Mungkin sistem hidup kita memang sedang ditarik ke batasnya.

Saya paham kenapa banyak orang memilih bahasa yang ringan. Mengatakan “iklim rusak” terasa terlalu besar. Ada kesan seolah kita harus langsung bicara dalam grafik, laporan ilmiah, konferensi global, dan istilah yang bunyinya seperti password Wi-Fi kantor kementerian. Sementara hidup kita sudah cukup penuh: cicilan, kerjaan, tugas kuliah, biaya kos, orang tua, relasi yang tidak jelas arahnya, dan harga kopi yang makin percaya diri. Jadi ketika cuaca kacau, kita memilih kalimat yang pendek: “Musimnya lagi aneh.” Selesai. Aman. Tidak perlu mikir jauh.

Padahal, justru dari hal sehari-hari itulah krisis ini paling gampang dipahami. Kita tidak perlu mulai dari es kutub. Kita bisa mulai dari kipas angin yang menyala lebih lama. Dari kelas yang makin panas. Dari jalan kampus yang tergenang. Dari ojol yang tetap narik di bawah langit beracun. Dari ibu yang mengeluh harga cabai naik. Dari petani yang menatap langit seperti menunggu balasan chat dari orang yang sudah jelas tidak niat serius. Semua itu bukan potongan cerita terpisah. Ia bagian dari pola yang makin susah kita sangkal.

Bukan Cuaca, Tapi Pola Hidup

Ada beda besar antara cuaca dan iklim. Cuaca itu kejadian harian: hari ini hujan, besok panas, lusa mendung. Iklim adalah pola panjang yang membentuk cara kita hidup. Ketika pola itu berubah, hidup ikut berubah. Masalahnya, perubahan ini tidak datang seperti adegan film bencana. Tidak selalu ada gedung roboh, sirene besar, dan tokoh utama berlari sambil membawa anak kecil. Kadang ia datang lewat hal yang lebih pelan dan kurang dramatis: tagihan listrik, gagal panen, jalan rusak, badan mudah sakit, dan harga makan siang yang terasa makin menghina saldo.

Di sinilah kebiasaan menyebut semua ini sebagai musim aneh menjadi problem. Kalimat itu membuat krisis terasa seperti keunikan cuaca, bukan konsekuensi dari cara ekonomi dan politik memperlakukan bumi. Kita lupa bahwa panas ekstrem tidak berdiri sendiri. Ia berkaitan dengan emisi, energi fosil, kota minim ruang hijau, bangunan yang menyerap panas, dan keputusan pembangunan yang sering lebih hormat pada beton daripada manusia. Banjir juga tidak datang hanya karena hujan. Ia datang bersama drainase buruk, sungai yang dipersempit, hutan yang hilang, tanah yang ditutup semen, dan pejabat yang selalu menemukan cara untuk terdengar prihatin tanpa terlalu banyak berubah.

Lebih tidak adil lagi, dampaknya tidak dibagi rata. Orang yang punya uang bisa beli pendingin ruangan, pindah rumah, pasang filter udara, atau bekerja dari tempat yang lebih aman. Orang biasa harus beradaptasi dengan cara yang lebih kasar: menahan panas, menambal atap, kehilangan upah harian, atau menunda makan enak karena harga pangan naik. Anak muda kelas menengah mungkin mengeluh di media sosial. Anak muda desa dan pesisir bisa kehilangan sumber hidup keluarganya. Sama-sama terdampak, tapi jelas tidak sama rasa sakitnya.

Maka, menyebutnya sekadar “cuaca lagi aneh” sering membuat pelaku besar ikut terselamatkan. Karena kalau masalahnya hanya cuaca, siapa yang perlu bertanggung jawab? Awan? Angin? Kalender? Kita jadi lupa bertanya tentang izin tambang, pembakaran batu bara, deforestasi, tata kota buruk, industri yang mencemari udara, dan kebijakan yang terus menganggap pertumbuhan ekonomi sebagai dewa kecil yang tidak boleh diganggu. Lucu juga, ya. Saat rakyat kebanjiran, yang disalahkan sampah warga. Saat hutan hilang, yang dipuji investasi. Benar-benar sulap birokrasi tingkat lanjut.

Buat milenial dan Gen Z, ini bukan isu tambahan. Ini latar hidup. Kita akan bekerja, membangun keluarga, membayar sewa, merawat orang tua, dan merencanakan masa depan di tengah pola cuaca yang makin tidak stabil. Kita tidak sedang membaca berita tentang generasi lain. Kita membaca bocoran kasar tentang hidup kita sendiri. Kalau hari ini kita masih bisa bercanda, bagus. Humor itu penting. Tapi jangan sampai humor berubah jadi bius. Jangan sampai meme membuat kita lupa bahwa yang sedang berubah bukan cuma langit, tapi juga syarat dasar untuk hidup layak.

Tentu kita tidak perlu menjadi murung sepanjang hari. Tidak ada gunanya juga hidup seperti notifikasi bencana berjalan. Tapi kita perlu mengganti cara membaca keadaan. Setiap kali hujan terlalu ganas, panas terlalu panjang, atau harga pangan tiba-tiba naik, mungkin kita bisa berhenti sedikit. Bukan untuk panik, tapi untuk bertanya: ini kejadian tunggal atau bagian dari pola? Siapa yang paling rugi? Siapa yang tetap untung? Siapa yang selalu diminta sabar? Pertanyaan seperti itu tidak membuat kita otomatis menyelesaikan krisis, tapi ia mencegah kita menjadi penonton yang terlalu mudah dibodohi.

Pada akhirnya, musim aneh bukan istilah yang harus kita buang sepenuhnya. Ia boleh dipakai sebagai pintu masuk, asal tidak menjadi tempat bersembunyi. Dunia memang terasa aneh, tapi keanehan ini punya sebab, punya pelaku, dan punya korban. Kalau kita terus menyebutnya sekadar cuaca, kita sedang memberi diskon tanggung jawab kepada mereka yang paling banyak merusak. Jadi, menurutmu, di tempatmu sekarang apa yang paling terasa: panas yang makin brutal, hujan yang makin kacau, atau cara orang-orang masih berpura-pura semua ini biasa saja?