Selamatkan bumi terdengar seperti kalimat yang baik-baik saja. Mulia, bersih, cocok ditaruh di poster sekolah, kaos komunitas, dan caption acara tanam pohon yang fotonya diambil dari sudut paling hijau.
Tapi semakin lama saya merasa kalimat itu agak menipu, atau minimal terlalu nyaman. Bumi tidak sedang menunggu kita seperti pasien di ruang ICU. Planet ini akan terus berputar, dengan atau tanpa manusia yang sibuk rapat, debat, dan membuat komite baru.
Yang benar-benar rapuh adalah kita.
Manusia. Kampung. Pekerjaan. Tubuh. Sawah. Laut. Rumah. Harga makan siang. Jalan pulang. Masa depan yang dulu kita kira bisa direncanakan dengan kalender, tabungan kecil, dan sedikit nekat. Kalau krisis iklim memburuk, bumi mungkin tetap ada. Tapi hidup yang kita kenal bisa berubah menjadi sesuatu yang jauh lebih kasar.
Ini yang sering hilang dari obrolan lingkungan. Kita terlalu sering membicarakan bumi sebagai sesuatu yang jauh, besar, dan hampir suci. Akibatnya, krisis iklim terasa seperti urusan planet, bukan urusan dapur. Padahal IPCC sudah mencatat bahwa dampak perubahan iklim terasa pada sistem manusia: pangan, air, kesehatan, kota, permukiman, dan infrastruktur.
Yang kena pertama bukan batuan purba atau orbit bumi. Yang kena adalah orang yang rumahnya kebanjiran, pekerja yang tetap keluar saat panas ekstrem, petani yang gagal membaca musim, nelayan yang lautnya makin sulit ditebak, dan anak muda yang makin sering bertanya dalam hati: masa depan ini masih bisa dipercaya atau tidak?
Di titik ini, narasi lingkungan perlu digeser. Bukan karena alam tidak penting. Justru karena alam terlalu penting untuk dijadikan slogan manis yang kehilangan manusia di dalamnya. Kita tidak sedang membela “bumi” sebagai benda abstrak. Kita sedang membela syarat hidup yang membuat manusia bisa tetap sehat, bekerja, makan, mencintai, membesarkan anak, merawat orang tua, dan pulang ke rumah tanpa rasa takut air akan melumatkan itu semua..
Selamatkan Bumi, Tapi Siapa Duluan?
Pertanyaan ini terasa sederhana, tapi bisa bikin tidak nyaman. Setiap kali kita mendengar ajakan selamatkan bumi, kita perlu bertanya: siapa yang paling dulu diselamatkan, dan siapa yang terus diminta sabar?
Karena krisis iklim tidak membagi rasa sakit secara rata. Orang kaya bisa membeli pendingin ruangan, rumah di lokasi lebih aman, asuransi, filter udara, atau tiket pesawat untuk pindah sementara. Orang biasa mendapat versi adaptasi yang jauh lebih brutal: menambal atap bocor, menaikkan barang saat banjir, tetap bekerja saat udara buruk, atau menunda makan enak karena harga pangan naik.
Di kota, panas bisa membuat hari kerja terasa seperti hukuman tambahan. Kurir tetap mengantar paket. Ojol tetap menembus jalan. Buruh bangunan tetap berdiri di bawah matahari. Pedagang kecil tetap membuka lapak, karena kalau tidak jualan, tidak makan. Sementara gedung-gedung tinggi tetap dingin, terang, dan penuh rapat tentang keberlanjutan. Kadang ironi memang tidak punya malu.
Di desa, krisis ini punya wajah lain. Musim tanam yang meleset bukan sekadar cerita cuaca. Itu utang pupuk, biaya benih, panen yang gagal, dan rasa malu karena keluarga tetap butuh makan. Di pesisir, rob dan abrasi bukan sekadar “fenomena alam”. Itu halaman rumah yang makin sering didatangi air, makam leluhur yang terancam, dan anak muda yang mulai berpikir untuk pergi karena kampungnya tidak lagi memberi rasa aman.
Makanya saya agak curiga setiap kali isu lingkungan dibicarakan terlalu bersih. Terlalu banyak gambar daun. Terlalu banyak kata “hijau”. Terlalu sedikit cerita tentang orang yang kalah duluan. Padahal WHO menyebut perubahan iklim sebagai ancaman mendasar bagi kesehatan manusia, terutama kelompok yang paling rentan.
Krisis iklim bukan cuma soal karbon di atmosfer. Ia soal siapa yang punya kuasa menghindar, dan siapa yang dipaksa bertahan.
Kita juga perlu hati-hati dengan rasa bersalah yang dibagikan terlalu murah. Tentu kita perlu mengubah kebiasaan. Mengurangi sampah, hemat energi, naik transportasi umum kalau memungkinkan, semua itu baik. Tapi kalau semua percakapan berhenti di perilaku individu, kita sedang membuat pelaku besar bisa bernapas lega. Mereka yang mengeruk fosil, membuka hutan, membangun kota tanpa ruang hidup layak, dan membuat kebijakan setengah hati bisa bersembunyi di balik nasihat: “mulai dari diri sendiri.”
Mulai dari diri sendiri boleh. Tapi jangan berakhir di diri sendiri.
Karena orang kecil tidak bisa sendirian memperbaiki sistem yang sengaja dibuat besar, mahal, dan jauh dari meja makan mereka. Warga bisa memilah sampah, tapi tidak bisa sendirian mengatur industri. Pelajar bisa membawa tumbler, tapi tidak bisa sendirian menghentikan pembangkit kotor. Petani bisa menyesuaikan pola tanam, tapi tidak bisa sendirian mengatur emisi global. UNDP juga menyoroti bagaimana perubahan pola cuaca mengancam penghidupan, ketahanan pangan, dan aset ekonomi komunitas rentan.
Ada batas antara tanggung jawab pribadi dan pengalihan beban yang terlalu rapi.
Kita perlu cara bicara yang lebih jujur. Krisis iklim adalah krisis kehidupan manusia. Ia mengganggu kesehatan, pangan, air, pekerjaan, pendidikan, dan rasa aman. Ia membuat yang rentan makin rentan. Ia membuat masa depan terasa seperti kontrak yang syaratnya berubah diam-diam setelah kita tanda tangan.
Jadi, mungkin kalimat itu tidak salah. Hanya kurang lengkap. Selamatkan bumi, iya. Tapi jangan sampai kita mengucapkannya sambil lupa bahwa yang sedang megap-megap adalah manusia yang hidup di atasnya.
Kalau planet ini tetap berputar, tapi kampung hilang, tubuh rusak, pekerjaan lenyap, dan anak muda kehilangan imajinasi masa depan, apa sebenarnya yang berhasil kita selamatkan?
Menurutmu, siapa yang paling sering dilupakan ketika orang bicara tentang krisis iklim?










Leave a Review